Orangtua
Masih “Terlena” Nilai Akademik Dibanding Pendidikan Karakter
Sabtu, 12 April 2014
KOMPAS.com — Sebagai orangtua, siapa pun ingin anak-anaknya bisa
bersekolah dengan reputasi bagus, berprestasi, dan memiliki fasilitas
memadai. Orang selalu menganggap gedung dan fasilitas sekolah bagus itu
sesuai perkembangan zaman sehingga sekolah seperti itu dinilai
berkualitas bagus pula.
Namun demikian, berapa banyak di antara orangtua itu yang lebih
memikirkan kurikulum pelajaran yang diajarkan di sekolah? Pendidikan
karakter seperti apa yang diajarkan di sana dan bagaimana kualitas
guru-gurunya, serta budaya di sekolah itu?
“Ini ibarat melihat mutiara dalam kotak perhiasan yang cantik.
Kebanyakan orang hanya fokus pada kotak pembungkus di luarnya, dan bukan
pada mutiara di dalamnya. Terlalu fokus pada kotak luarnya hanya akan
membuat mutiaranya jadi terlupakan. Ini paradigma yang harus diubah
orangtua saat bicara pendidikan,” kata Bill McIntyre, Director of
International Education Practice Franklin Covey, dalam seminar guru dan
kepala sekolah “The Leader in Me” di Jakarta, Sabtu (5/4/2014) lalu.
Menurut Bill, tak salah jika orangtua melihat “penampakan luar”
sekolahnya karena hal tersebut juga menjadi salah satu komponen alat
peraga pendukung proses pembelajaran. Namun, rasanya semua itu akan
sangat percuma jika sekolah itu tak memiliki perhatian khusus pada
pendidikan dan perkembangan karakter peserta didiknya.
“Anak-anak adalah mutiara di dalam kotak, maka fokuslah untuk
mendidiknya tidak hanya dari luarnya, yaitu sisi akademik, tapi juga
karakter dalam dirinya, khususnya tentang kepemimpinan. Ini bekal untuk
mereka saat dewasa nanti,” ujarnya.
Dalam memilih sekolah, lanjut Bill, mempertimbangkan pendidikan karakter
adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Dia menambahkan,
pendidikan karakter kepemimpinan (leadership operating system) yang
dimiliki sekolah tak kalah penting dibandingkan faktor prestasi
akademik.